Edisi 44 th VII : 04 November 2016 M / 04 Shafar 1438 H
KENDALI LISAN DAN TANGAN
Penulis:
ust. Marsudi, S.Pd.I (TPQ al-Mukmin, Bangunsari)
Segala puji hanyalah bagi Allah
swt yang telah berfirman dalam al-Qur’an surat an-Nahl ayat 125 yang artinya “serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” Shalawat dan salam semoga tetap tercurah pada nabi
Muhammad saw, sang guru sejati bagi seluruh umat manusia sampai akhir jaman,
yang memberikan tuntunan terbaik bagaimana cara kita menghadapi setiap masalah
dalam kehidupan.
Pada hari ini, saudara-saudara
kita sedang menyuarakan aspirasinya di jalan dan tempat-tempat tertentu. Kita
semua tentunya berdoa semoga aksi ini benar-benar berlangsung damai dan tidak
memperkeruh situasi. Kita juga berharap, melalui aksi ini akan tercapai hasil
yang memuaskan berbagai pihak, meskipun secara hitung-hitungan logika, tidaklah
mungkin semua pihak akan puas terhadap sebuah hasil yang sama. Ada berbagai
“sudut pandang” yang berbeda bahkan mungkin berseberangan, ada “cara pandang”
yang tentu juga berbeda, bahkan pasti ada juga “jarak pandang” yang berbeda.
Dari berbagai hal tentang “pandangan” terhadap sebuah masalah inilah yang harus
kita sikapi dengan bijak. Kita pasti berbeda dengan orang lain, namun bukan
berarti kita harus menendang mereka dari daftar teman ataupun saudara seiman
kita.
Situasi dan kondisi kota Ponorogo yang juga
dikenal sebagai kota santri ini, tentunya harus tetap kita jaga
ke-kondusif-annya. Sebagai muslim yang baik, kita bisa melakukan tindakan yang
sekiranya tidak menyakiti orang lain, terutama sesama muslim yang mungkin
berbeda pendapat dengan kita. Ada sebuah hadits yang harus kita jadikan
pegangan saat kita akan melakukan tindakan yang sekiranya berbeda dengan
saudara muslim lainnya. Rasulullah saw bersabda
اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ
وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ
مَانَهَى اللهُ عَنْهُ
Artinya: “Yang disebut muslim (orang islam) yaitu orang yang
memberikan rasa selamat tentram damai bagi orang islam lainnya dari lisan dan
tangannya, dan yang disebut muhajir (orang yang hijrah) yaitu seseorang yang
pindah berpaling dari larangan Allah terhadapnya.” (HR Bukhari dan
Muslim).
Pesan Rasulullah saw ini sepertinya sederhana,
namun sesungguhnya butuh keteguhan hati untuk mengimplementasikannya. Di era
digital dengan beragam media sosial mulai dari WA, FB, BBM dan lain sebagainya,
kita bisa menuliskan aspirasi kita sesuka hati kita sebagai pengganti lisan.
Namun pada konteks inilah pesan Rasulullah saw dalam hadits tersebut harus kita
pegang teguh. Jika kita tidak menjaga lisan kita dalam menyuarakan tulisan,
bisa jadi kita menyinggung saudara kita yang memang tidak sependapat dengan
kita. Fenomena yang terjadi dalam minggu-minggu terakhir ini, betapa mudah kita
menemukan tulisan yang menyebut kata “kafir” – “munafik” – “pengecut” dan
sebagainya. Betapa mudah dan entengnya melontarkan tuduhan-tuduhan pada sesama
saudara seiman. Dan yang memprihatinkan, tulisan tersebut dibalas dengan hal
yang senada. Jadilah media sosial sebagai sarana saling mengejek sesama orang
Islam.
Selain perihal menjaga “lisan”, Rasulullah saw
juga mengingatkan perihal menjaga “tangan” yang dimaknai sebagi tindakan.
Sebagai muslim yang sejati, kita tidak diperkenankan melakukan
tindakan-tindakan yang sekiranya membuat muslim lainnya merasa tidak aman dan
tidak tentram. Sebagaimana kita ketahui, banyak “tindakan” pertumpahan darah
hanya karena berawal dari “lisan”. Hal ini bisa dikategorikan “dhalim” karena
memang tidak menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya. Mari kita cermati
sabda Rasulullah saw berikut ini
اِتَّقُواالظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَاتَّقُواالشُّحَّ اَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى
اَنْ سَفَكُوْا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوْا مَحَارِمَهُمْ
Artinya: “Takutlah berbuat dhalim karena akan menggelapkan kalian di
hari kiamat, dan takutlah pada perilaku kikir, karena hal itu mampu
menghancurkan umat terdahulu, hal itu juga yang mengakibatkan terjadinya
pertumpahan darah dan nafsu angkara menghalalkan segala cara haram.”
(HR Muslim).
Dari dua hadits tersebut,
kita dapat mengambil benang merah, betapa pentingnya menjaga diri kita pribadi
khususnya dan jamaah kita pada umumnya terkait dengan peristiwa hari ini. Kita
harus menyadari bahwa ada yang berbeda pendapat dengan kita, namun mereka tetap
saudara sesama muslim bagi kita. Jangan menganggap mereka musuh. Kita harus
tetap menjaga ukhuwah Islamiyah walau apapun yang terjadi. Jangan sampai
kekhawatiran Rasulullah saw terjadi di sini, di kota Ponorogo tercinta ini
khususnya dan di negara Indonesia pada umumnya. Mari kita cermati kekhawatiran
Rasulullah saw yang tercurah dalam salah satu hadits
لاَ تَرْجـِعُوْا بَعْدِى كـُفـَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ
رِقـَابَ بَعْضٍ
Artinya: “Janganlah sepeninggalku kelak kalian kembali kafir yakni
saling membunuh, yang satu memenggal leher yang lain.” (HR Bukhari dan
Muslim).
Betapa menyeramkannya
kekhawatiran Rasulullah saw. Dan kekhawatiran tersebut sudah menjadi kenyataan
di sana, di kawasan Timur Tengah sana, di negrinya para Nabi. Betapa
negri-negri yang dipenuhi mayoritas warganya muslim, justru saling berperang
membunuh antar kelompok yang tidak sependapat. Bukan hanya perang militer,
namun juga menjadi perang sipil yang melibatkan militan yang sebenarnya orang
biasa kemudian melakukan tindakan militer. Dalam konteks ini, kita sebagai
warga Ponorogo, tentunya mengharapkan keadaan kota ini kondusif meski ada
kelompok-kelompok yang berbeda pendapat. Mari kita himbau teman dan saudara
kita untuk menjaga lisan dan tangannya demi kemashlahatan bersama. Namun ada baiknya
jika kita juga mencermati al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 44 yang artinya “Mengapa
kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu sendiri melupakan nya,
padahal kamu telah membaca kitab? Maka tidakkah kamu berpikir?”. Oleh
karena itu, segala sesuatunya mari kita mulai dari diri kita sendiri terlebih
dahulu. Semoga Allah meridhai hidup dan mati kita. Aamiin.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar